Archiv für Juli, 2009

Database Transaction: ACID

5 Juli, 2009

Sedikit review mengenai transaction theory pada suatu database. Mekanisme Oracle untuk mengelola transaction integrity sendiri menkombinasikan undo segment dan redo log files, database lain memiliki mekanisme sendiri untuk data processing mereka. Singkat cerita setiap relational database harus memenuhi kriteria ACID (Atomicity, Consistency, Isolation, dan Durability)

Atomicity
Prinsip dari atomicity adalah seluruh transaksi harus dilaksanakan semua (complete) atau tidak sama sekali. Sebagai contoh pada payroll processing: pada setiap kenaikan gaji karyawan maka grade dari karyawan tersebut juga harus ikut berubah, maka „atomictransaction akan terdiri dari dua update. Database harus dapat menggaransi bahwa kedua bagian update tersebut harus berhasil atau tidak sama sekali untuk semuanya. Jika hanya satu update saja yang berhasil, maka anda akan memiliki karyawan dengan pendapatan/gaji yang tidak sesuai/kompatibel dengan grade yang seharusnya: istilah bisnisnya adalah data corruption. Jika terjadi sedikit kesalahan saja/error/sesuatu yang tidak di kehendaki, maka database harus dapat memastikan bahwa tidak ada satu bagian pun yang tersimpan (tidak ada satupun update yang di lakukan), dan ini harus terjadi secara otomatis.

Oracle menjamin atomicity ini dengan menggunakan undo segment.

Consistency

Prinsip dasar dari consistency adalah hasil dari sebuah query harus konsisten dengan apa yang ada di database pada saat query di jalankan. Misalkan saja sebuah query sederhana untuk melihat rata-rata nilai pada satu kolom sebuah tabel. Jika tabel tersebut besar, maka akan membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyelesaikannya. Jika pada query berjalan dan pada saat yang sama ada user yang meng-update kolom tersebut, apakah query tersebut mengikutkan baris baru tersebut atau tidak? Pada dasarnya sesuai dengan prinsip consistency, database akan memastikan perubahan nilai tidak di lihat oleh query: hal ini akan memberikan nilai rata-rata kolom sama seperti saat query pertama kali di jalankan, tidak peduli berapa lama eksekusi query berlangsung atau adanya aktifitas lain yang terjadi pada table tersebut.

Seringkali jika konfigurasi undo segment tidak benar akan muncul Oracle error, „ORA-1555 snapshot too old.“

Isolation

Prinsip dari isolation adalah incomplete transaction (uncommitted) (harus) tidak dilihat. Ketika sebuah transaction sedang berjalan, hanya satu session saja yaitu session yang mengeksekusi transaksi yang diijinkankan untuk melihat perubahan dari hasil transaksi tersebut: session yang lain harus melihat data asli, yaitu data sebelum adanya perubahan dari transaksi. Logikanya, pertama, full transaction tidak akan melewati (ingat prinsip atomicity) dan tidak ada satu user pun yang di ijikan melihat perubahan yang mungkin di terimanya. Kedua pada saat progress sebuah transaksi maka datanya (istilah bisnisnya) incoherent: terdapat sedikit jeda waktu ketika data pendapatan (salary) seorang karyawan (employee) telah berubah, tetapi grade employee tersebut tidak berubah. Transaction isolation membutuhkan database harus menyembunyikan transaksi (conceal transactions) yang sedang berjalan dari user lain: user hanya akan melihat versi sebelum update (preupdate)  sampai transaksi tersebut benar benar selesai (complete). Oracle menjamin transaction isolation ini melalui undo segments.

Durability

Prinsip durability pada dasaranya adalah satu transation dinyatakan complete dengan sebuah COMMIT. Pada saat transaksi sedang berjalan, konsep Isolation menghendaki tidak ada satupun (selain session tersebut) yang dapat melihat perubahan data yang telah di buat. Setelah transactions completes, maka semua session akan dapat melihat perubahan data tersebut dan database harus menjamin perubahan tersebut tidak akan hilang. Pada kasus tertentu bisa saja database kehilangan datanya dikarenakan user error: DML yang tidak baik atau dropping objects.

Oracle memenuhi Durability ini melalu penggunaan logfiles. Logfiles terdiri dari dua bentuk: Online redo log files, dan archive redo log files.

P.S: Dari buku ORACLE DATABASE 10g OCP Certification All-in-One Exam Guide (Exams #1Z0-042 and #1Z0-043)

Pilpres Satu Putaran, Kenapa Tidak!

4 Juli, 2009

Tolak Satu Putaran

Gambar di atas saya ambil dari kompas epaper hari ini. Secara jelas iklan tersebut menolak pilpres satu putaran. Pilpres satu putaran „dianggap“ sebagian kalangan mencederai demokrasi. Saya gak tau landasan pemikirannya  darimana dan seperti apa.Yang jelas pilpres satu putaran akan menjadi penghematan anggaran yang luar biasa besar bagi KPU dan negara. Jadi kenapa satu hal yang sebenarnya baik harus di tolak? Bukankah sisa anggaran tersebut bisa di pakai untuk kepentingan yang lain? Yang lebih bermanfaat secara riil untuk masyarakat. Kredit mikro untuk rakyat kecil misalnya, atau untuk pembangunan infrastruktur daerah tertinggal, atau untuk pembangunan pembangkit listrik lagi, mengingat di sebagian daerah di jawa saja listriknya masih byar pet, apalagi di luar pulau jawa yang tempatnya jauh lebih terpencil, atau kalalu mau cepat anggarkan saja untuk BLT, yang setidak-tidaknya lebih bermanfaat daripada untuk mencetak kertas yang kemudian di contreng kemudian menjadi tidak berarti lagi setelahnya.
Pers***n dengan demokrasi, jika demokrasi sendiri tidak mampu memberikan kesejahteraan untuk rakyat.

Lomography: Diana, Holga, dan LCA (Fun With Plastic)

3 Juli, 2009

Diana, Holga, dan LCA semuanya merupakan kamera plastik. Seorang teman saya bahkan menganggapnya sebagai kamera „rusak“. Tidak mengherankan karena tekhnologi yang dipakai adalah tekhnologi tahun 1960-an sampai 1970-an. Saat dimana ayah saya masih menginjak usia remaja. Saya sendiri tidak terlalu memperdulikan istilah Lomography yang belakangan menjadi tren di sebagian remaja perkotaan. It’s getting common.

Karena jika kita menilik ke sejarahnya kamera model ini sudah ada sejak era tahun 1970-an. Lomography sendiri baru ada pada tahun 1990-an. Model pemasaran Lomography memang luar biasa, saya sendiri memiliki satu buah Colorsplah Camera Chakra Edition. Saya membelinya tahun lalu dengan harga 800-an ribu di Jogjakarta dengan bantuan seorang kawan. Harganya untuk saat ini sudah menyentuh kisaran 900-an ribu karena terpuruknya rupiah terhadap dollar Amerika.

Saat mengenal istilah Lomography pertama kali, Saya cukup kebingungan mengenali jenis-jenis kamera yang ada. Dan semakin bingung ketika berniat untuk memiliki salah satunya. Model yang cukup banyak beredar adalah Diana, Holga, LCA, Colorsplash,  Action Sampler, dan Fisheye. Kepada model/jenis kamera apa yang akan di beli sangat tergantung dengan kesukaan anda. Karena setiap model/jenis akan menghasilkan gambar yang berbeda/khusus.

Diana + / Diana F+

Model ini cukup terjangkau harganya, dan tersedia beberapa lens dan accesoris yang cukup menarik. Karena lens-nya dapat di copot. Tersedia beberapa model lensa misalnya untuk wide angle dan fisheye. Lebih detailnya silahkan kunjungi link ini. Kamera ini menggunakan format film 120 mm, yang sudah jarang kita temui belakangan ini. Meskipun disediakan juga tempat untuk film 35 mm yang di sebut Diana F+ Back 35 mm yang di jual terpisah. Di Jogjakarta sendiri saya cukup kesulitan mencari film 120 mm, apalagi untuk mencari tempat untuk men-scan atau mencetaknya. Sebagai gambaran silahkan kunjugi link ini untuk Diana dan ini untuk Diana +/Diana F+.

LCA
Aslinya model ini dibuat oleh Rusia. Namun untuk sekarang sudah diproduksi secara masal di Cina. Kamera ini memiliki glass lens dan memiliki kemampuan yang menarik (Lebih Advanced lah ya..), meskipun memiliki quality control yang kurang bagus namun menghasilkan foto yang „menarik“. Kamera ini menggunakan film 35 mm, yang sering kita jumpai di setiap toko kamera di mana mana. Sebagai perbandingan silahkan kunjungi link ini untuk melihat contoh hasil jepretan LCA. Harganya sendiri cukup mahal, namun jika di lihat dari pilihan lensa dan flash yang yang sedemikian menarik, kamera ini layak di beli untuk anda yang berkantong cukup tebal.

Holga
Mungkin holga merupakan salah satu yang termurah. Kamera ini memiliki fitur yang hampir sama dengan model Diana +/F+ namun dengan harga yang lebih terjangkau. Karena tersedia beberapa pilihan lensa dan flash yang bermacam-macam dan cukup unik. Holga juga menggunakan film 120 mm namun bisa juga menggunakan film 35 mm dengan sedikit trik. Sample photo bisa di lihat di sini

Selain ketiga model/jenis/merk di atas, masih ada lagi yang lain seperti misalnya Lubitel, Horizon yang menghasilkan gambar super lebar, Supersampler untuk sekali jepret dan beberapa gambar, dan masih banyak yang lainnya. Untuk lebih jelasnya silahkan ber-google ria atau kunjungi saja laman resminya.

Di Indonesia anda bisa bergabung dengan komunitas Lomonesia, dan jangan lupa untuk bergabung di Facebooknya. Rasanya Diana F+ cukup menarik bukan? Ah tidak tidak ini saatnya saya berhemat. :D