Hari Sabtu kemarin (14/06/2009) saya berkesempatan mengunjungi kembali Samarinda, Ibukota Provinsi Kalimantan Timur itu. Perlu saya tegaskandi sini, karena seringkali banyak orang yang salah kaprah mengenai ibukota Kalimantan Timur ini, banyak orang menganggap Balikpapan adalah ibukota Kalimantan Timur. Samarinda dan Balikpapan kurang lebih 2 jam saja dengan berkendara mobil.
Di kota yang di lintasi sungai Mahakam ini saya cukup kesulitan menemukan tempat wisata yang bisa saya kunjungi. Tempat yang biasa saya kunjungi adalah Mall Lembuswana dan SCP, dua mall yang ada di Samarinda. Mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi di Samarinda akan bertambah dua mall lagi, dengan hadirnya Citraland City Samarinda dan yang sedang di bangun di depan Hotel Mesra, saya tidak tahu namanya apa nanti, karena sepertinya pemiliknya juga sama dengan Hotel Mesra. Di hotel ini pula saya menginap selama semalam. Jika anda berksempatan berkunjung ke Samarinda, saya merekomendasikan untuk menginap di hotel ini.

Hotel Mesra
Singkat cerita pada malam minggu akhirnya saya di ajak Om saya keluar, tidak tanggung-tanggung, saya di ajak untuk mencoba sate buaya. Lokasinya di dekat SPC, saya lupa nama restorannya. Rasanya mirip dengan daging ayam, mungkin karena tiap hari di beri makan ayam. Haha…

Sate Buaya
Dengan kondisi gigi saya yang sedang di kawat, saya cukup kesulitan. Ini lebih di karenakan daging buaya-nya cukup keras. Kalo alot se enggak. Mengenai harga dari sate buaya ini berapa saya tidak tahu, maklum gratisan. Hehe…
Satu porsi terdiri dari 10 tusuk sate. Satu sunduk kurang lebih 5-7 iris daging buaya. Sayang penyajianya cukup lambat, masak pertama kali yang di sajikan ke meja adalah bumbu sate, baru kemudian setelah kurang lebih 20 menit, nasi putih baru di hidangkan, baru 10 menit kemudian „buaya“-nya muncul. Itu kan kurang ajar sekali, apalagi perut saya sudah keroncongan dari sore hari. Masak saya harus ngemil bumbu sate.
Well, saya tidak mau berdebat soal haram dan halalnya daging buaya. Karena saya sendiri baru menyadari telah menyantap buaya setelah selesai makan.




18 Juni, 2009 um 12:11
wooow…jadi pengen
koe wes tau mangan „ketuyung“??
kayak siput gitu,, org banjar yg suka makan ketuyung..
18 Juni, 2009 um 6:16
wah durung pak. blm nemu tempat makan yg nyediain begituan..
26 Juni, 2009 um 11:41
*ika anda berksempatan berkunjung ke Samarinda, saya merekomendasikan untuk menginap di hotel ini
Lu banget Git, senengnya sama hotel-hotel mewah, bayarnya gak mau tapi, wkwkwkwk
26 Juni, 2009 um 4:11
hanya mencoba menerapkan prinsip ekonomi dengan sebaik-baiknya, dan. :LOL:
16 Juli, 2009 um 9:14
weks.. buaya makan buaya..
16 Juli, 2009 um 9:20
Hahaha… Cicak makan Buaya pak!
19 Oktober, 2009 um 10:25
koreksi dikit. bukan SPC (sego pecel) tpi SCP (samarinda central plasa)….
aq 9 bulan d sangatta. sesekali maen k bontang koala. skrg aq d tarakan-nunukan..
salam bumi etam
igen-arya.blogspot.com
19 Oktober, 2009 um 10:56
hehe.. betul betull. salah ketik saya.. yg terngiang-ngiang masih SGPC Bu Wiryo di Klebengan. hehe..
Terimakasih koreksinya mas igen.
Salam bumi etam
Sigit