setelah malamnya kita trekking di taman nasional tangkoko. pagi paginya begitu subuh menjelang kita bertiga buru buru masuk „hutan lagi“ menuju ke arah pantai untuk tentu saja berburu „sunrise„. nama pantainya kalau tidak salah adalah pantai batu putih. sesuai dengan nama daerahnya. kenapa bisa di namakan batu putih? saya tidak tahu, dan dengan bodohnya tidak sempat bertanya ke penduduk lokal, tidak juga saya temukan batu putih di sepanjang pantai tersebut. yang ada adalah hamparan pasir hitam. tapi pasir hitamnya tidak seperti di parangtritis. pasirnya gede-gede. lebih mirip batu batuan dengan ukuran sangat kecil tapi bagus dan berasa „enak“ untuk di injak-injak.
kami sangat kecewa ketika di tengah perjalanan, tiba tiba hujan datang. cukup deras, dan terpaksa harus mampir untuk berteduh. sempat pesimis karena begitu hutan reda keadaan sudah cukup terang. dengan prediksi tidak dapat sunrise segera kami pun segera berlari ke arah pantai. yahaha.. matahari masih merah merah di ujung sana. beruntunglah kami.

siang harinya kami bertiga segera berkemas untuk ke manado, dengan harapan dapat menikmati sunset di teluk manado. setelah berdebat di jalanan cukup lama soal hotel yang akan kita tempati, akhir nya mereka menuruti kemauan saya untuk menginap di hotel ritzy, tentu saja setelah saya paksa rayu. kenapa saya paksa rayu? karena kita sudah menggembel 3 hari 2 malam. malam terakhir harus sedikit beda gaya. biar bisa pulang dengan tenang. lebay. sepertinya sudah menjadi aturan tidak tertulis buat saya, kalau backpacker ala gembel, hari terakhir pokoknya sebisa mungkin sedikit manja. hahay..

sialnya manado sore itu di selimuti awan tebal. setelah kita tunggu sampai saat nya tiba. tetep aja sunrise-nya gak nongol. sial sekali. setelah benar-benar gelap. dengan langkah berat, akhirnya kita menujul manado mall. mencari warung kopi terdekat.

puas memperhatikan gadis gadis manado yang mondar mandir di mall, kami segera menuju jalan wakeke, untuk berwisata kuliner. tentu saja kami menuju tempat makan yang paling rame. dengan harapan di situlah tempat makan yang menyajikan masakan paling enak. saya ngotot pesan bubur manado, karena malam tersebut adalah malam terakhir di manado dan pagi harinya sudah harus di bandara, sedangkan saya belum mendapatkan satu ‘b’ pun. sialnya lagi bubur manado nya sudah habis, kalau mau harusnya tadi sore antara jam 2 sampai jam 4. saya lupa nama tempatnya, dan meskipun sudah malem, pengunjungnya masih tetep rame. rata-rata mereka cuman numpang ngenet buat buka facebook. dasar anak muda jaman sekarang!
meskipun sudah lemes, dan kaki tertatih-tatih kami segera kembali ke hotel, pikir kami di hotel pasti ada yang namanya bubur manado meskipun kami pesan jam 1 pagi pun. ok. kita berhasil pesan. meskipun lama sekali datangnya.

selesai makan rombongan kasal dan gubernur sulut datang. dan kami pu segera menyambut mereka dengan cabut ke lantai atas. di lantai dua paling tidak kami bisa berhahahihi dengan lebih tenang.
-end post-






