setelah dua kali penerbangan yang membosankan itu dan di akhiri pendaratan yang keras. akhirnya saya sampai di jogja. cuaca di atas buruk. melongok ke jendela semuanya putih dan menjelang pendaratan semuanya jadi gelap. suasana layaknya kereta ekonomi jember-jogja yang pernah saya coba beberapa tahun lalu. goyang goyang gak jelas. dan saya pun menjadi semakin religius menyebut nama tuhan dan memujinya berkali kali. di kepala saya yang terbayang tidak banyak, hanya soal tergelincirnya garuda beberapa tahun lalu di adisutjipto.
puji tuhan saya selamat tak kurang suatu apapun. benar saja. jogja menyambut saya dengan gerimis. tidak ada payung yang menyambut di bawah layaknya penerbangan garuda biasanya. benar saja tidak ada garuda yang terbang dari balikpapan ke jogja.
telepon sana sini tidak ada yang menyambut. pertanda buruk pikir saya. yah benar saja, dengan berat hati saya pesan taksi sampai saphir. dan daripada saya di perebutkan banyak orang dengan kepentingannya masing masing saya memilih ke salah satu conter taksi. klo gak salah namanya mirip nama burung lambang negara kita. pertama tama si bapak bilang 35 rebu kemudian dengan cepatnya dia mengulang 40 rebu. oh tidak saya di tipu. tapi toh akhirnya saya bayar juga.
semalaman ngobrol ngalor ngidul soal dari soal kuliah, gadis, logika fuzzy (bah), datawarehouse, sampai bisnis lele di kedai kopi di daerah perempatan kentungan. haha. yang benar saja. di temanin beberapa kawan. kukuh, paris, dan fren. paginya saya bermaksud mencoba trasjogja itu. di anter fren sampai halte njethis. karena pas ke halte kopma ugm ternyata tidak langsung k terminal njombor (harus ganti lagi di terminal condong catur). di njethis saya harus menunggu cukup lama. si ibu menjanjikan sekitar 10 menit tapi ternyata saya harus menunggu dua kali lipatnya sampai bus saya datang. hanya saya sendiri di temani ibu ibu penjaga halte yang ramah, sangat jogja. dan ternyata si ibu itu orang magelang. hahaha..
karena ini hari minggu bus sangat sepi, hanya ada saya, gadis penjaga pintu bus (kondektur kali ya), bapak bapak yang sudah seperti kakek kakek., dan dan untung nya ada satu mahkluk hawa lagi di depan saya. nampaknya mahasisiwi salah satu perguruan tinggi di jogja (ya iyalah) yang berparas lumayan. ah, lumayan jadi tidak begitu bosan, meskipun lelaki yang mendampinginya cukup membosankan. hahaha.yang cukup bikin saya surprise adalah pada saat mau berhenti di halte berikutnya, kalo di transjakarta atau kalau kita biasa menyebut dengan istilah busway (which is salah kaprah sebenarnya) ada satu sistem otomatis yang memberikan informasi halte berikutnya, nah kalau di transjogja sangat manual sekali, yaitu di ucapkan secara manual oleh mbak-mbak yang jaga pintu bus tersebut. hohoho.. sedikit surprise tadi. dan mereka juga harus melaporkan jumlah penumpang yang keluar masuk di setiap halte. buat evaluasi implementasi transjogja ini kalee ya?
sesampai di jombor bergantilah saya naik bus jogja-semarang, dan untungnya bus tersebut sedang kebut-kebutan dengan bus lain, jadinya saya cepat sampai muntilan.
P.S: jogja ternyata tidak kalah panas dengan bontang. dan sekarang tiada hari tanpa hujan.