Satu dialog hari ini benar benar memberikan tanda tanya buat diri saya. Siapakah saya sebenarnya? (*berlebihan…) Dialog diawali saya dengan bahasa jawa. Kemudian seorang ibu pun bikin saya heran bukan main.
Seorang Ibu: „Oalah wong jawa juga ta.. Tak kira wong bugis“
Sigit: „Haahaha“ *ketawa satir
Sigit: „Kapan itu malah ada yang bilang saya orang batak, bu“
Seorang Ibu : „Oh iya.. Ada dikit“
Dalam hati saya berteriak: „Whaaaaaaaaaaattttt… Batak dari Hongkoooonggg..“
Parah. Bahkan, minggu lalu sewaktu saya di Bandung. Pada saat menikmati kemacetan pagi hari di Jakarta. Bapak-bapak yang nganter saya bolak-balik Jakarta-Bandung bilang „Oh, bapak bukan orang sunda ta.. Saya kira orang sunda, kalo saya dari Sumatra, Pak, dari Padang“
Saya pun kembali menilik kembali ke masa silam, pada saat penjajahan Belanda. Seingat saya, kakek saya pernah bercerita mengenai kakek canggah dari kakek saya tersebut sudah tinggal di Magelang. Paling tidak dari sini, saya masih keturunan orang jawa. Konon katanya kalo gak salah dengar kakek canggah dari kakek saya tersebut dulunya adalah adipati, kalau sekarang mungkin setingkat bupati, tapi lebih tinggi lagi karena kekuasaanya adalah sekarisidenan kedu. Loh.. Apa hubungannya kemudian? Tidak ada sebenarnya.. cuman mau pamer aja.
Mungkin saja salah satu mbah saya sudah menikah dengan orang selain orang jawa. Sehingga cucunya yang satu ini diragukan kejawenannya. Adik nenek saya sendiri ada yang menikah dengan orang Belanda. Meskipun Belanda-belanda-nan, karena konon beliau pada saat masih balita tertinggal di pulau jawa sewaktu keluarganya pulang ke Belanda. dan kemudian di asuh oleh orang jawa. Jadi, tidak heran kalau penguasaan bahasa jawanya lebih bagus dari saya, meskipun dari sisi gen jelas-jelas bukan orang jawa. Tapi kenapa beliau lebih di kenali sebagai orang jawa di bandingkan saya?
Satu fakta tambahan di sini orang selalu kaget sewaktu ngaku-ngaku, kalau saya ini berasal dari Jogja. *ya iyalah. Gw orang Magelang. Mereka pasti balik bertanya, „Asli jogja, mas?“. Biasanya saya jawab „IYA“. Semoga saja darah saya belum bercampur. Masih murni orang jawa. Hehe.. *ngarep
Kejadian tahun lalu mungkin lebih mengherankan lagi. Atau tidak? Kurang lebih setahun lalu ada yang bilang saya ini tidak menjalankan puasa. Yah, saya di sangka seorang non-muslim. Kejadian tahun lalu adalah ulangan tahun sebelumnya sebenarnya. Karena pada tahun 2006 ada sesosok wanita harus bertanya dulu ke teman saya mengenai agama saya untuk sekedar mengucapkan selamat berbuka puasa. Bahkan tadi malam, sewaktu memesan travel ke Balikpapan dengan percayanya si Mas Travel tersebut percaya kalau saya mau pulang buat natalan. Dengan logat sundanya yang kental si Mas Travel bilang, „Oh, mas sigit natalan to.. kok baru pulang tanggal 25?“
Moral dari cerita malam ini adalah „Saya jadi tidak heran kenapa ada seorang wanita campuran batak-jawa meragukan sholat saya, meskipun saya sendiri juga tidak heran.“
*S&#$^^#%^%&