ok. itu karena saya salah. saya tidak memakai helm saat melintasi komplek perumahan karyawan PC VI. tapi saya tidak terima ketika bapak berkata (lebih tepatnya mengintrogasi) saya dengan nada tinggi kepada saya, seolah saya adalah seorang kriminal, dan bapak telah menuduh saya berbohong dan bersikap tidak sopan. kemudian bapak menyebarkan berita ini dengan tidak benar (di lebih-lebih-kan). saya senang bapak melakukan tugas anda dengan baik, tapi saya tidak terima dengan cara bapak, sikap bapak yang sok-sokan. bapak telah menghabiskan 15 menit hari itu dengan sia-sia. terlebih saya tidak diijinkan lewat. ini namanya pemborosan bbm pak! karena saya harus memutar balik dan menghabiskan beberapa mililiter bensin. pemboros itu temennya setan pak!
soal dianggap tidak sopan saya tidak bisa terima, berulang kali saya tertangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas. bapak polisi nya selalu memuji saya karena sikap saya yang sangat sopan. tapi tetap aja sikap saya tersebut tetap tidak cukup untuk menggratiskan denda.
dari logat bapaknya, bapak-nya berasal dari indonesia timur. lebih tepatnya pulau seberang. mungkin bisa di maklumi kalau gaya bicaranya seperti itu. karena (saya tidak bermaksud SARA atau SARU) tapi saya berasal dari muntilan. ibu dan bapak saya sendiri jarang membentak. ketika ibu saya meninggikan gaya bicaranya saja, saya sudah ketakutan setengah mati. jadi saya tidak terbiasa dengan kondisi ini. jadi saya anggap kalau bapak marah. saya sebenarnya merasa kasihan sama bapa, karena harus terus melotot selama 15 menit demi saya.
giliran malem harinya teman saya yang di khotbahi. karena memakai helm terbalik (yang depan memakai helm „ciduk„, yang belakang memakai helm standar). saya sampai bosan menunggu teman saya selesai di ceramahi secara monoton dan berulang-ulang menekankan hal yang sama.
sempet ada joke antara saya dan teman saya. temen saya cerita bapak-nya sempet bilang: „anda orang baru aja sudah begini, gimana nanti kalau jadi kakom atau kadep?“. teman saya dalam hati hanya mengamini doa bapak tersebut dan bergumam „kalau saya jadi kakom, bapak saya pecat“.
gyahaha…
kalau saya analisis lebih jauh lagi, mungkin karena muka saya yg berubah lima tahun lebih muda gara-gara abes potong rambut dan penampilan saya yang agak kumuh. saya mengendari motor bebek honda astrea prima keluaran tahun 1990. memakai celana pendek hitam kusam, jaket hitam lusuh, helm defaultnya yamaha berwarna biru yang sudah dedel duel, dan kresek putih yang mencurigakan. bisa di bayangkan?
saya ingin bilang kepada bapak tersebut dengan pelan. „pak, mohon maaf, bulan depan bapak tidak gajian. tahun depan aja ya pak gajiannya.“
atau lebih sadis lagi. „maaf pak, tapi nama bapak tidak ada di dalam database kami. bapak ini siapa? satpam gadungan ya?“
tapi maaf saja, saya masih bisa mengendalikan diri saya. jadi impian liar nan nakal saya tersebut masih terbatas impian yang nun jauh di sana.