![]()
Seems like devilish smile for me.
)
a mybrainsgrowell’s note
Tinggal di luar Jawa memang terkadang terasa menjengkelkan. Terutama soal harga. Apapun pasti mahal di sini. Bagaimana tidak, hampir semua kebutuhan pokok, di impor dari luar pulau. Jadi tidak heran kalau harga sebagian besar barang sedikit mahal. Pertama kali yang bikin kaget adalah pada saat pertama kali datang di sini ( Bontang), sekitar bulan Februari tahun 2008, rasanya berat untuk menukarkan satu galon Aqua dengan kocek Rp 26.000,- (sekarang kurang lebih seharga Rp 29.000,-). Hampir tiga kali lipat dari harga di pulau Jawa. Terlebih selama tiga tahun terakhir saya mendiami Jogjakarta, yang bisa di bilang „apa-apa“ serba murah. Hal yang sama berlaku juga sama untuk harga makanan (baca: mahal).
Bagaimana dengan harga buku? Setali tiga uang. Meskipun tidak 3x lipatnya dari harga di pulau Jawa, namun rasanya sampai sekarang saya belum ikhlas beli buku di sini, kecuali pada waktu itu,
, saya terpaksa beli komik Jepang, saking penasarannya menunggu edisi selanjutnya. Itupun hanya beli satu biji saja, karena edisi setelahnya tidak pernah tersedia. Rata-rata harga buku di Gramedia, Samarinda, kurang lebih 150% nya dari harga yang di tawarkan di Toga Mas, Jogjakarta (CMIIW).
Jadi jangan heran kalau sekembalinya saya di tanah Jawa, terkadang kalap melihat buku. Main comot dari rak, yang pada akhirnya di kembalikan lagi ke rak tersebut, hehe.. karena ternyata setelah di hitung-hitung duit yang di bawa tidak cukup untuk membeli semuanya.
Jeleknya adalah, terkadang buku yang di beli tidak di baca-baca juga. Penyakit yang satu ini sepertinya sulit di sembuhkan. Karena selain waktu luang, minat baca terhadap buku-buku tersebut juga suka naik turun kayak harga pertamax di SPBU. Bedanya kalo di SPBU, harga pertamax relatif stabil naik, sedangkan mood baca saya naik turun.
Sepulangnya dari Jogjakarta awal bulan ini juga tidak saya lewatkan ritual-kalap untuk memborong satu atau dua biji buku. Kali ini saya bawa buku karangan Dan Brown, The Lost Symbol. Dan lagi lagi, saat tulisan ini di tulis, saya baru menyelesaikan chapter 1 & 2, terlepas urusan bahasa penulis yang belum di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Karena buat saya, di butuhkan energi tersendiri untuk memahami buku ini.

„Ironis sekali, Kaltim mampu memproduksi batu bara sekitar 120 juta matrik ton per tahun namun untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik yang hanya diperlukan batu bara 400 ribu ton saja masih sulit,“ ujar seorang Anggota DPRD Kaltim Siti Qomariyah di Samarinda, yang saya kutip dari Antara.
Kaltim, provinsi kaya yang masih sering mati lampu (sebagian-banyak-wilayah). Rekor PLN „lampu padam-tepat waktu“ adalah bulan puasa kemarin, mati lamput-pas-tepat saatnya berbuka puasa-tinggal menyantap hidangan berbuka-selama tiga hari berturut-turut. Good job PLN!

Pada awal agustus ini saya berkesempatan mencoba bermain perang-perangan ala paintball. Skenario permainan kali ini cukup mudah. Satu bendera di letakkan di tengah-tengah arena „perang“. Mereka yang berhasil merebut dan membawa bendera tersebut ke markas musuh, maka team tersebut yang akan menang. Dan percayalah sodara-sodara, perang itu tidak mudah, melelahkan, menguras energi dalam jumlah yang ndak tanggung-tanggung. Padahal perang yang saya alami ini kurang dari 1 jam. Singkat Cerita Team saya akhirnya memenangkan perang tersebut, setelah musuh kehabisan peluru mereka. Hahaha..
) Saya sendiri „mati“ dalam perang tersebut. Tapi setidaknya „kematian“ saya ini menjadi pijakan awal buat rekan-rekan satu team untuk maju ke wilayah musuh. Dan team saya pun menang. Hidup memang butuh pengorbanan, kawan.
Tapi haruskah kita yang berkorban? Atau kita korbankan saja orang lain?

P>S: Sudah akhir agustus, dan baru satu tulisan baru di blog ini. Cenderung „asik“ dengan tumblr dan twitter, sekali-kali facebook.
Sedikit review mengenai transaction theory pada suatu database. Mekanisme Oracle untuk mengelola transaction integrity sendiri menkombinasikan undo segment dan redo log files, database lain memiliki mekanisme sendiri untuk data processing mereka. Singkat cerita setiap relational database harus memenuhi kriteria ACID (Atomicity, Consistency, Isolation, dan Durability)
Atomicity
Prinsip dari atomicity adalah seluruh transaksi harus dilaksanakan semua (complete) atau tidak sama sekali. Sebagai contoh pada payroll processing: pada setiap kenaikan gaji karyawan maka grade dari karyawan tersebut juga harus ikut berubah, maka „atomic“ transaction akan terdiri dari dua update. Database harus dapat menggaransi bahwa kedua bagian update tersebut harus berhasil atau tidak sama sekali untuk semuanya. Jika hanya satu update saja yang berhasil, maka anda akan memiliki karyawan dengan pendapatan/gaji yang tidak sesuai/kompatibel dengan grade yang seharusnya: istilah bisnisnya adalah data corruption. Jika terjadi sedikit kesalahan saja/error/sesuatu yang tidak di kehendaki, maka database harus dapat memastikan bahwa tidak ada satu bagian pun yang tersimpan (tidak ada satupun update yang di lakukan), dan ini harus terjadi secara otomatis.
Oracle menjamin atomicity ini dengan menggunakan undo segment.
Consistency
Prinsip dasar dari consistency adalah hasil dari sebuah query harus konsisten dengan apa yang ada di database pada saat query di jalankan. Misalkan saja sebuah query sederhana untuk melihat rata-rata nilai pada satu kolom sebuah tabel. Jika tabel tersebut besar, maka akan membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyelesaikannya. Jika pada query berjalan dan pada saat yang sama ada user yang meng-update kolom tersebut, apakah query tersebut mengikutkan baris baru tersebut atau tidak? Pada dasarnya sesuai dengan prinsip consistency, database akan memastikan perubahan nilai tidak di lihat oleh query: hal ini akan memberikan nilai rata-rata kolom sama seperti saat query pertama kali di jalankan, tidak peduli berapa lama eksekusi query berlangsung atau adanya aktifitas lain yang terjadi pada table tersebut.
Seringkali jika konfigurasi undo segment tidak benar akan muncul Oracle error, „ORA-1555 snapshot too old.“
Isolation
Prinsip dari isolation adalah incomplete transaction (uncommitted) (harus) tidak dilihat. Ketika sebuah transaction sedang berjalan, hanya satu session saja yaitu session yang mengeksekusi transaksi yang diijinkankan untuk melihat perubahan dari hasil transaksi tersebut: session yang lain harus melihat data asli, yaitu data sebelum adanya perubahan dari transaksi. Logikanya, pertama, full transaction tidak akan melewati (ingat prinsip atomicity) dan tidak ada satu user pun yang di ijikan melihat perubahan yang mungkin di terimanya. Kedua pada saat progress sebuah transaksi maka datanya (istilah bisnisnya) incoherent: terdapat sedikit jeda waktu ketika data pendapatan (salary) seorang karyawan (employee) telah berubah, tetapi grade employee tersebut tidak berubah. Transaction isolation membutuhkan database harus menyembunyikan transaksi (conceal transactions) yang sedang berjalan dari user lain: user hanya akan melihat versi sebelum update (preupdate) sampai transaksi tersebut benar benar selesai (complete). Oracle menjamin transaction isolation ini melalui undo segments.
Durability
Prinsip durability pada dasaranya adalah satu transation dinyatakan complete dengan sebuah COMMIT. Pada saat transaksi sedang berjalan, konsep Isolation menghendaki tidak ada satupun (selain session tersebut) yang dapat melihat perubahan data yang telah di buat. Setelah transactions completes, maka semua session akan dapat melihat perubahan data tersebut dan database harus menjamin perubahan tersebut tidak akan hilang. Pada kasus tertentu bisa saja database kehilangan datanya dikarenakan user error: DML yang tidak baik atau dropping objects.
Oracle memenuhi Durability ini melalu penggunaan logfiles. Logfiles terdiri dari dua bentuk: Online redo log files, dan archive redo log files.
P.S: Dari buku ORACLE DATABASE 10g OCP Certification All-in-One Exam Guide (Exams #1Z0-042 and #1Z0-043)

Gambar di atas saya ambil dari kompas epaper hari ini. Secara jelas iklan tersebut menolak pilpres satu putaran. Pilpres satu putaran „dianggap“ sebagian kalangan mencederai demokrasi. Saya gak tau landasan pemikirannya darimana dan seperti apa.Yang jelas pilpres satu putaran akan menjadi penghematan anggaran yang luar biasa besar bagi KPU dan negara. Jadi kenapa satu hal yang sebenarnya baik harus di tolak? Bukankah sisa anggaran tersebut bisa di pakai untuk kepentingan yang lain? Yang lebih bermanfaat secara riil untuk masyarakat. Kredit mikro untuk rakyat kecil misalnya, atau untuk pembangunan infrastruktur daerah tertinggal, atau untuk pembangunan pembangkit listrik lagi, mengingat di sebagian daerah di jawa saja listriknya masih byar pet, apalagi di luar pulau jawa yang tempatnya jauh lebih terpencil, atau kalalu mau cepat anggarkan saja untuk BLT, yang setidak-tidaknya lebih bermanfaat daripada untuk mencetak kertas yang kemudian di contreng kemudian menjadi tidak berarti lagi setelahnya.
Pers***n dengan demokrasi, jika demokrasi sendiri tidak mampu memberikan kesejahteraan untuk rakyat.
Diana, Holga, dan LCA semuanya merupakan kamera plastik. Seorang teman saya bahkan menganggapnya sebagai kamera „rusak“. Tidak mengherankan karena tekhnologi yang dipakai adalah tekhnologi tahun 1960-an sampai 1970-an. Saat dimana ayah saya masih menginjak usia remaja. Saya sendiri tidak terlalu memperdulikan istilah Lomography yang belakangan menjadi tren di sebagian remaja perkotaan. It’s getting common.
Karena jika kita menilik ke sejarahnya kamera model ini sudah ada sejak era tahun 1970-an. Lomography sendiri baru ada pada tahun 1990-an. Model pemasaran Lomography memang luar biasa, saya sendiri memiliki satu buah Colorsplah Camera Chakra Edition. Saya membelinya tahun lalu dengan harga 800-an ribu di Jogjakarta dengan bantuan seorang kawan. Harganya untuk saat ini sudah menyentuh kisaran 900-an ribu karena terpuruknya rupiah terhadap dollar Amerika.
Saat mengenal istilah Lomography pertama kali, Saya cukup kebingungan mengenali jenis-jenis kamera yang ada. Dan semakin bingung ketika berniat untuk memiliki salah satunya. Model yang cukup banyak beredar adalah Diana, Holga, LCA, Colorsplash, Action Sampler, dan Fisheye. Kepada model/jenis kamera apa yang akan di beli sangat tergantung dengan kesukaan anda. Karena setiap model/jenis akan menghasilkan gambar yang berbeda/khusus.
Model ini cukup terjangkau harganya, dan tersedia beberapa lens dan accesoris yang cukup menarik. Karena lens-nya dapat di copot. Tersedia beberapa model lensa misalnya untuk wide angle dan fisheye. Lebih detailnya silahkan kunjungi link ini. Kamera ini menggunakan format film 120 mm, yang sudah jarang kita temui belakangan ini. Meskipun disediakan juga tempat untuk film 35 mm yang di sebut Diana F+ Back 35 mm yang di jual terpisah. Di Jogjakarta sendiri saya cukup kesulitan mencari film 120 mm, apalagi untuk mencari tempat untuk men-scan atau mencetaknya. Sebagai gambaran silahkan kunjugi link ini untuk Diana dan ini untuk Diana +/Diana F+.
LCA
Aslinya model ini dibuat oleh Rusia. Namun untuk sekarang sudah diproduksi secara masal di Cina. Kamera ini memiliki glass lens dan memiliki kemampuan yang menarik (Lebih Advanced lah ya..), meskipun memiliki quality control yang kurang bagus namun menghasilkan foto yang „menarik“. Kamera ini menggunakan film 35 mm, yang sering kita jumpai di setiap toko kamera di mana mana. Sebagai perbandingan silahkan kunjungi link ini untuk melihat contoh hasil jepretan LCA. Harganya sendiri cukup mahal, namun jika di lihat dari pilihan lensa dan flash yang yang sedemikian menarik, kamera ini layak di beli untuk anda yang berkantong cukup tebal.
Holga
Mungkin holga merupakan salah satu yang termurah. Kamera ini memiliki fitur yang hampir sama dengan model Diana +/F+ namun dengan harga yang lebih terjangkau. Karena tersedia beberapa pilihan lensa dan flash yang bermacam-macam dan cukup unik. Holga juga menggunakan film 120 mm namun bisa juga menggunakan film 35 mm dengan sedikit trik. Sample photo bisa di lihat di sini
Selain ketiga model/jenis/merk di atas, masih ada lagi yang lain seperti misalnya Lubitel, Horizon yang menghasilkan gambar super lebar, Supersampler untuk sekali jepret dan beberapa gambar, dan masih banyak yang lainnya. Untuk lebih jelasnya silahkan ber-google ria atau kunjungi saja laman resminya.
Di Indonesia anda bisa bergabung dengan komunitas Lomonesia, dan jangan lupa untuk bergabung di Facebooknya. Rasanya Diana F+ cukup menarik bukan? Ah tidak tidak ini saatnya saya berhemat. ![]()

Hari Sabtu kemarin (14/06/2009) saya berkesempatan mengunjungi kembali Samarinda, Ibukota Provinsi Kalimantan Timur itu. Perlu saya tegaskandi sini, karena seringkali banyak orang yang salah kaprah mengenai ibukota Kalimantan Timur ini, banyak orang menganggap Balikpapan adalah ibukota Kalimantan Timur. Samarinda dan Balikpapan kurang lebih 2 jam saja dengan berkendara mobil.
Di kota yang di lintasi sungai Mahakam ini saya cukup kesulitan menemukan tempat wisata yang bisa saya kunjungi. Tempat yang biasa saya kunjungi adalah Mall Lembuswana dan SCP, dua mall yang ada di Samarinda. Mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi di Samarinda akan bertambah dua mall lagi, dengan hadirnya Citraland City Samarinda dan yang sedang di bangun di depan Hotel Mesra, saya tidak tahu namanya apa nanti, karena sepertinya pemiliknya juga sama dengan Hotel Mesra. Di hotel ini pula saya menginap selama semalam. Jika anda berksempatan berkunjung ke Samarinda, saya merekomendasikan untuk menginap di hotel ini.

Hotel Mesra
Singkat cerita pada malam minggu akhirnya saya di ajak Om saya keluar, tidak tanggung-tanggung, saya di ajak untuk mencoba sate buaya. Lokasinya di dekat SPC, saya lupa nama restorannya. Rasanya mirip dengan daging ayam, mungkin karena tiap hari di beri makan ayam. Haha…

Sate Buaya
Dengan kondisi gigi saya yang sedang di kawat, saya cukup kesulitan. Ini lebih di karenakan daging buaya-nya cukup keras. Kalo alot se enggak. Mengenai harga dari sate buaya ini berapa saya tidak tahu, maklum gratisan. Hehe…
Satu porsi terdiri dari 10 tusuk sate. Satu sunduk kurang lebih 5-7 iris daging buaya. Sayang penyajianya cukup lambat, masak pertama kali yang di sajikan ke meja adalah bumbu sate, baru kemudian setelah kurang lebih 20 menit, nasi putih baru di hidangkan, baru 10 menit kemudian „buaya“-nya muncul. Itu kan kurang ajar sekali, apalagi perut saya sudah keroncongan dari sore hari. Masak saya harus ngemil bumbu sate.
Well, saya tidak mau berdebat soal haram dan halalnya daging buaya. Karena saya sendiri baru menyadari telah menyantap buaya setelah selesai makan.
sedikit berita basi, malam minggu kemarin saya menonton pertandingan antar ps pkt bontang melawan psis semarang yang berlangsung di stadion mulawarman pkt. pertandingang berlangsung sedikit tak berimbang. singkat cerita pertandingan berakhir 3-0 untuk kemenangangan pkt bontang.
nasib psis untuk musim ini sepertinya memang sangat mengenaskan. terlepas dari kepastian degradasi ke divisi utama, bayangkan, pada saat pertandingan di bontang kemarin, psis hanya membawa 11 pemain plus 3 official. tidak ada pemain cadangan. tentunya keputusan ini di dasarkan pada kondisi financial psis yang memang „tidak ada“. konon untuk biaya menginap hotel saja satu orang tidak lebih dari 200 ribu rupiah. dan tentu saja di bontang dengan sejumlah uang tersebut sangat sulit mencari tempat menginap yang cocok. walaupun toh akhirnya mereka menginap di hotel bintang sintuk di kompleks pkt. hal ini juga lebih di karenakan adanya pihak „sponsor lain-lain“.
nasib yang kurang lebih sama di rasakan pkt bontang. walapun bisa di katakan sedikit lebih baik jika di bandingkan dengan psis. gaji pemain ps pkt bontang bisa di katakan tidak pernah telat. meskipun kondisi internal pkt bontang sendiri juga sudah kempas-kempis. gosip yang beredar per tanggal 13 juni 2009 besok, kontrak pemain pkt bontang di pastikan sudah di lepas. hanya tiga hari setelah pertandingan terakhir melawan pelita di mulawarman. keputusan ini terpaksa di ambil pihak manajemen mengingat kepastian nasib pkt bontang di liga super tahun mendatang juga masih belum pasti. walaupun kondisi paling terakhir pkt bisa dipastikan bertahan di liga super untuk tahun depan. ternyata hal ini belum bisa menjadi jaminan. yang jelas kalau sampai pkt bontang degradasi hampir 99% akan di bubarkan. pihak pkt sendiri sepertinya akan melepas, sedangkan pihak pemkot bontang sendiri belum ada kepastian akan mengambil alih.
mengingat sejarah kedua tim dari jaman galatama sampai sekarang, saya rasa sangat di sayangkan jika saja nantinya kedua tim ini harus bubar. terlepas dari segala konflik kepentingan yang ada di dalamnya, saya sangat berharap semoga ada pihak sponsor laen yang segera mengambil alih kedua team sepakbola tanah air tersebut. sudah saatnya sepakbola indonesia berubah menjadi industri, bukan sekedar hobi para pejabat.
ah, bicara dan berkomentar memang gampang, karena prakteknya tidak segampang itu, bahkan jauh lebih sulit.
It’s been a while since my return to Jogjakarta. Heartbreaks and disappointments do kill my inspirations. And I’m still uninspired actually. Feelings of laziness happen here. Damn!
Oh ya, guys, I have another home. I have new accout at tumblr. Azizah told me about this (tumblr), and I just think: „It’s good think to have another account here“. Well, I have posted some of my photos here (http://mybrainsgrowell.tumblr.com)
Have a nice sunday!

Saya sempat terkecoh dengan logo ini. Pertama liat hanya logo „M“ ini dari jarak jauh, letak logonya pun berupa bendera dan hanya „M“ saja, tidak ada ada kata megamas. Saya pun dengan cepatnya menyimpulkan, „ok, Manado ada Mc D-nya“. Dan betapa kecewanya saya ketika menuju ke arah bendera tersebut (ke arah Teluk Manado, sebelum MegaMall Manado) dan melihat truk dengan logo tersebut. Pikir saya, apa Mc D sudah melebarkan sayapnya di dunia konstruksi? ah, ternyata Megamas. Megamas sendiri merupakan suatu kawasan reklamasi pantai seluas 36 Ha di Manado yang di bangun dan di kembangkan oleh PT. Megasurya Nusalestari. Kawasan ini berisi mall, pertokoan, trade center, cafe-cafe. Kawasan ini menyajikan pemandangan teluk manado, sore hari kita bisa melihat sunset, itu juga kalau beruntung.
setelah malamnya kita trekking di taman nasional tangkoko. pagi paginya begitu subuh menjelang kita bertiga buru buru masuk „hutan lagi“ menuju ke arah pantai untuk tentu saja berburu „sunrise„. nama pantainya kalau tidak salah adalah pantai batu putih. sesuai dengan nama daerahnya. kenapa bisa di namakan batu putih? saya tidak tahu, dan dengan bodohnya tidak sempat bertanya ke penduduk lokal, tidak juga saya temukan batu putih di sepanjang pantai tersebut. yang ada adalah hamparan pasir hitam. tapi pasir hitamnya tidak seperti di parangtritis. pasirnya gede-gede. lebih mirip batu batuan dengan ukuran sangat kecil tapi bagus dan berasa „enak“ untuk di injak-injak.
kami sangat kecewa ketika di tengah perjalanan, tiba tiba hujan datang. cukup deras, dan terpaksa harus mampir untuk berteduh. sempat pesimis karena begitu hutan reda keadaan sudah cukup terang. dengan prediksi tidak dapat sunrise segera kami pun segera berlari ke arah pantai. yahaha.. matahari masih merah merah di ujung sana. beruntunglah kami.

siang harinya kami bertiga segera berkemas untuk ke manado, dengan harapan dapat menikmati sunset di teluk manado. setelah berdebat di jalanan cukup lama soal hotel yang akan kita tempati, akhir nya mereka menuruti kemauan saya untuk menginap di hotel ritzy, tentu saja setelah saya paksa rayu. kenapa saya paksa rayu? karena kita sudah menggembel 3 hari 2 malam. malam terakhir harus sedikit beda gaya. biar bisa pulang dengan tenang. lebay. sepertinya sudah menjadi aturan tidak tertulis buat saya, kalau backpacker ala gembel, hari terakhir pokoknya sebisa mungkin sedikit manja. hahay..

sialnya manado sore itu di selimuti awan tebal. setelah kita tunggu sampai saat nya tiba. tetep aja sunrise-nya gak nongol. sial sekali. setelah benar-benar gelap. dengan langkah berat, akhirnya kita menujul manado mall. mencari warung kopi terdekat.

puas memperhatikan gadis gadis manado yang mondar mandir di mall, kami segera menuju jalan wakeke, untuk berwisata kuliner. tentu saja kami menuju tempat makan yang paling rame. dengan harapan di situlah tempat makan yang menyajikan masakan paling enak. saya ngotot pesan bubur manado, karena malam tersebut adalah malam terakhir di manado dan pagi harinya sudah harus di bandara, sedangkan saya belum mendapatkan satu ‘b’ pun. sialnya lagi bubur manado nya sudah habis, kalau mau harusnya tadi sore antara jam 2 sampai jam 4. saya lupa nama tempatnya, dan meskipun sudah malem, pengunjungnya masih tetep rame. rata-rata mereka cuman numpang ngenet buat buka facebook. dasar anak muda jaman sekarang!
meskipun sudah lemes, dan kaki tertatih-tatih kami segera kembali ke hotel, pikir kami di hotel pasti ada yang namanya bubur manado meskipun kami pesan jam 1 pagi pun. ok. kita berhasil pesan. meskipun lama sekali datangnya.

selesai makan rombongan kasal dan gubernur sulut datang. dan kami pu segera menyambut mereka dengan cabut ke lantai atas. di lantai dua paling tidak kami bisa berhahahihi dengan lebih tenang.
-end post-
pada kesempatan liburan di manado kemarin, tujuan utama kita adalah untuk melihat tarsius di taman nasional tangkoko, yang merupakan habitat asli dari monyet terkecil di dunia ini. kami memutuskan untuk trekking ke dalam hutan pada sore hari kurang lebih jam lima sore waktu setempat. trekking juga bisa juga di lakukan pagi hari sebelum matahari terbit. tarsius bersifat nokturnal, sehingga untuk melihatnya keluar di lakukan pada malam hari. setelah berjalan cukup lama dan melelahkan sampai napas yang terengah engah menghirup oksigen, akhirnya kami berjumpa dengan dua orang turis dari inggris yang sedang be Den Rest des Beitrags lesen »
salah satu hal yang menyenangkan ketika mengunjungi tempat baru adalah bercakap-cakap dengan penduduk lokal. pada saat di bandara sam ramtulangi, kami bertemu dengan salah satu pendatang yang sudah lama tinggal di manado. dia bilang belum lengkap rasanya datang ke manado kalau belum merasakan 4 b: bubur, bibir, bunaken, dan babi.
bubur

bubur manado sangat terkenal. hampir setiap hotel berbintang menyediakan menu ini. di bontang pun ada beberapa warung yang menjual masakan ini. isinya terdiri dari bubur itu sendiri, di tambahkan dengan jagung, beberapa sayuran, dan bumbu rempah yang beragam. saya baru kesampean menyantap bubur ini pada saat malam terakhir di manado. itupun setelah menelusuri jalan wakeke yang terkenal untuk wisata kuliner. dan ternyata bubur tersebut telah habis semua. waktu yang tepat adalah pada sore hari kurang lebih jam dua sampai jam lima sore waktu setempat. akhirnya saya berhasil mendapatkan bubur manado ini di restoran hotel.
bibir
kalau ada yang bilang perempuan manado itu cantik cantik, saya akan mengangguk saja. tidak sulit menemukan perempuan cantik di kota ini. saya tidak perlu saya jelaskan lebih jauh. you know lah! jadi jika anda sedang dalam perjalanan dari bandara ke kota manado, biasanya pak sopir akan bilang: „mau di kenalin?“. OK. that’s the signal. anda akan di antar ke „TKP“. itu menurut cerita seorang warga manado di bandara yang saya temui. saya sendiri belum membuktikannya. sopir yang mengantarkan kami sendiri tidak „menawarkan“. perempuan di sini sangat modis. saya lupa peribahasa penduduk setempat, yang menggambarkan kondisi ini.

gambar di atas saya ambil di sebuah mall di manado. yang terlintas di bayangan saya adalah aksi tembak menembak ala koboi bakal segera terjadi. mungkin si bapak ke mall bawa kuda juga. yihaaaa… (baju-nya berbahan bludru lo..)
bunaken
siapa yang belum pernah dengar bunaken? beberapa pihak bahkan mengklaim bunaken sebagai tempat terbaik untuk menyelam. saya sendiri tidak sempat ke bunaken. karena waktu yang sangat mepet, dan tentu saja, bunaken bukan tempat tujuan kami di manado. mungkin di lain kesempatan.
babi
jika anda ke pasar lokal setempat, tidak akan sulit buat anda untuk menemukan jenis daging satu ini. pada kesempatan kemain kami sempat melihat satu anjing guling utuh yang di jual di pasar. biasanya juga terdapat jenis daging lain, seperti misalnya, kelelawar, kucing, monyet, tikus dan ular. tidak sulit juga menemukan waroeng makan yang menjual aneka masakan „aneh“, seperti misalnya: paniki, rusuk babi bakar/goreng, babi tore, babi rica, RW, ragey/sate Ba’, dll.

sempet ada joke pada saat saya di batu putih. mereka bilang:
- „di laut, hanya kapal laut saja yang tidak kami di makan“
- „yang terbang, hanya kapal terbang saja yang tidak kami di makan“
- „yang berkaki empat, hanya meja kursi saja yang tidak kami di makan“
- „yang merayap, hanya kereta api saja yang tidak kami di makan“
haha.. cukup lucu menurut saya. penduduk di sini juga gemar minum. apalagi ketika ada suatu hajatan penting. pada kesempatan kemarin kami sempat di jamu dengan sebotol minuman „cap tikus“, sejenis minuman beralkohol, produksi setempat, teman saya bilang rasanya mirip shake.
dari „empat b“ di atas saya baru kesampean b untuk bubur. mungkin di kunjungan berikutnya, nyobain bibir sepertinya menarik. hohohoho…
ana tutuge…